Mamaku seorang Janda

Aku adalah anak seorang janda sejak aku berumur 5 tahun,
saat itu kami sekeluarga tinggal di kota Pekanbaru, sejak pindah dari Ranai karena urusan pekerjaan Papa di Pekanbaru kami menempati rumah hasil pembagian warisan alm.Eyang kepada Alm.Kakek untuk keenam anaknya (termasuk mamaku), rumah itu masih terbuat dari papan dengan 6 kamar, 1 kamar utama di Bawah dan 4 kamar di lantai dua. masih jelas dalam ingatanku ketika kami bersiap-siap hendak pindah kerumah itu, rumah penuh memori itu.

-----

15 Tahun yang lalu,
saat itu bulan juli, yang kata mamaku adalah "bulan sial" padahal Juli adalah bulan kelahiranku, bulan pernikahan mama & papa, juga bulan kepergian papa untuk selamanya. Saat itu aku dan abang tengah jajan di warung depan rumah sedangkan mama tengah mencuci baju di sumur, namun seketika teriakan terdengar dari rumah, itu suara mamaku. Dengan pemandangan tidak wajar itu seketika rumahku menjadi ramai, aku ingat, masih ingat jelas bagaimana kericuhannya, tangis mama, kebingungan abang, suasana dirumah sakit, sesadarku kami telah berkumpul dirumah saudara yang tak jauh dari rumah yang telah ramai dengan para pelayat. makngah Piah (kakak nya papa) saat itu mendekapku denga isak tangis agak histeris, mamaku dengan wajah kaku memndng jenazah papa, sedangkan abang sibuk bermain dengan anak para pelayat, aku bingung.

Hari itu resmi hari pertama mama menjadi seorang janda.


beberapa minggu kemudian, adek perempuan mama yang aku sebut makngah datang menjemput kami sekeluarga untuk pindah ke Batam, karena menurut makngah mencari kerja di Batam tidak terlalu sulit. Ya aku, abang & mama pindah ke Batam, kami tinggal satu atap dengan makngah dan suaminya.

(Ketika memasuki usia SD aku sempat tinggal bersama nenek selama  satu tahun di Tambelan, dikarenakan usiaku yang belum genap tujuh tahun untuk masuk ke sekolah dasar)


Jika ada yang bilang tidak baik dua keluarga tinggal dalam satu atap, itu benar. keharmonisan hanya dapat dirasa sebentar saja, semakin hari semakin banyak hal yang membuat keadaan semakin "tidak enak", mulai dari hal uang belanja dan masak, mencuci baju dan membersihkan rumah, aku dan abang yang mulai nakal dan kedekatan mama dengan seorang teman pria.

Hingga suatu hari ketidak harmonisan itu menemui klimaksnya. Hari itu, aku dan abang dimarahi habis - habisan oleh Pakngah (Suami makngah) saat mama sedang tidak dirumah (kerja). ketika itu aku dan abang sedang berkelahi, mungkin pakngah ku gerah dengan kenakalan kami, maklum dirumah ini belum pernah ada anak kecil meskipun makngah dan pakngah telah menikah sejalan dengan umurku. Pakngah mengusir kami, menyuruh kami membereskan barang - barang yang ada di sepetak kamar itu. aku dan abang dengan isak tangis bersegera membungkus baju dengan sehelai kain. Dengan isak tangis kami mengadu kepada mama hal tersebut ketika mama pulang kerja, tidak bisa aku bayangkan bagaimana perasaan mama saat itu.

Mama segera membawa kami dan barang yang telah kami bungkus tersebut kerumah tetangga hanya untuk sekedar penyelamatan, tanpa pamit kami pindah. memang sebelumnya ketegangan antara mama dan adeknya sering terjadi dan telah berulang kali pula kami tinggal sementara dirumah tetangga untuk waktu yang singkat (dalam hitungan hari), namun hal itu masih bisa dperbaiki dengan musyawarah. namun ini klimaksnya, karena pakngah tidak pernah mengusir kami sebelumnya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Orang bijak selalu meninggalkan jejak :)